HMI Koorkom UI Gelar Nonton Bareng dan Diskusi Film Kingdom of Heaven

HMI Korkom UI adakan nonton bareng
Bidang PTKP HMI Korkom UI mengadakan acara nonton bersama dan diskusi film Kingdom of Heaven di Sekretariat HMI Se-UI, Beji, Depok, pada Senin malam (13/11).

Senin malam di minggu-minggu sesudah UTS bukanlah waktu yang romantis untuk menghabiskan waktu bersama kawan-kawan. Usai mengerjakan paper, menulis esai secara simultan, dan menghafal rumus-rumus selama dua minggu penuh, pilihan yang lebih populer adalah kembali mengerjakan tugas-tugas yang masih tertumpuk. Namun tidak semua mahasiswa sepakat dengan anggapan tersebut.

Kawan-kawan dari HMI Koordinator Komisariat Universitas Indonesia justru mengadakan momen nonton bersama dan diskusi film di malam-malam itu. “Usai UTS justru lebih baik memanfaatkan waktu untuk silaturahmi,“ ujar Farras Malik, Kepala Bidang PTKP HMI Korkom UI. Farras menggagas acara nonton bersama demi merekatkan kedekatan antar-komisariat pada lingkup HMI se-UI.

Pada Senin malam itu (13/11) Farras dan beberapa kawan menunggu di Sekretariat HMI se-UI yang terletak di belakang Stasiun Pondok Cina. Dia ditemani dua orang dari fakultas lain. Waktu sudah menunjukkan pukul 18:15 WIB. Mulur sedikit dari waktu yang ditentukan, namun peserta masih saja beberapa orang. Awalnya, ini membuat Farras skeptis karena segala peralatan untuk menonton bersama sudah lengkap dan materi diskusi lepas nobar pun sudah tersedia. Sangat sayang jika momen tersebut hanya dilalui beberapa orang.

Mereka akhirnya berkompromi, memaklumi bahwa hari itu mendung dan sangat mungkin kawan-kawan lain menunggu waktu yang tepat untuk mengikuti rangkaian tersebut. Ataupun jika tidak demikian, mungkin yang lain memiliki pekerjaan masing-masing yang masih harus dikerjakan. Apa boleh buat, acara nonton bersama segera dilangsungkan, masih dengan peserta yang beberapa, namun tak sampai menit kelima pemutaran film itu, beberapa kawan-kawan dari komisariat lain datang secara berangsur-angsur.

Kingdom of Heaven
Film yang diputarkan adalah Kingdom of Heaven (2005), film kolosal bertemakan tragedi perang salib pada abad ke-13. Film ini adalah karya besar Ridley Scott selain Gladiator (2000) dan The Martian (2015). Sementara William Monahan, sang penulis skrip, adalah seorang jenius yang namanya dikenal belakangan pasca The Departed (2006) memenangi beberapa kategori Academy Award.

Kendati merupakan sebuah film fiksi, penggambaran sejarah film ini dianggap bisa membentangkan wacana yang lebih luas mengenai konstelasi agama-agama pada abad ke-13. Nuansa film yang mencekam memaksa paras setiap peserta diskusi ikut menegang. Kekuasaan dan kebertautannya dengan agama nyatanya sempat menjadi tema sentral dalam peradaban manusia. Uraian ini masuk akal, mengingat peradaban beralih maju beriringan dengan munculnya teknologi dan ilmu pengetahuan. Latar waktu cerita di abad ke-13, sekaligus durasi film yang lama membuat atmosfer nonton bareng tidak terlalu mengesankan.

Suasana ini dan tema yang juga memang sedikit “berat“ memaksa Farras memutar otak untuk mencairkan keadaan. Ia memutuskan untuk membeli makanan ringan untuk belasan orang yang sedang menonton itu. Kendati makanan dan minuman tersebut tidak memungkinkan untuk dikonsumsi semua peserta, hal tersebut tidak menjadi soal. Beberapa peserta bahkan membawa makanan dan minumannya sendiri untuk kemudian dinikmati bersama dengan peserta nonton bareng yang lain.

Suasana nonton bareng menjadi lebih hangat dan tidak setegang sebelumnya. Hal ini berlangsung hingga tiga jam pemutaran film tersebut. Usai menonton film, Farras selaku pelaksana kegiatan menjadi pemantik diskusi film tersebut.

Diskusi soal Yerussalem
Farras menjabarkan peristiwa Perang Salib dan kontelasinya hingga memiliki keterkaitan secara kultural dengan ketegangan yang terjadi antara Palestina dan Israel, pada umumnya, dan juga Yerussalem, pada khususnya. Pada paparan lebih lanjut, Farras membedah fenomena Perang Salib dengan merujuk pada karya seminal Karen Armstrong, The Holy War (1998). Buku ini membedah fenomena Perang Salib dalam tiga perpektif sejarah kelompok-kelompok religius yang berkembang ketika itu, yaitu islam, nasrani, dan Yahudi.

Tesis mengenai awal perang salib dalam buku tersebut dilatarbelakangi keyakinan masing-masing kelompok agama untuk mempertahankan Yerussalem sebagai tanah yang suci menurut keyakinan masing-masing kelompok. Umat islam meyakini bahwa Yerussalem merupakan tempat ketika Nabi Muhammad SAW diangkat ke langit ke-7 dan mendapat perintah salat. Oleh karenanya, mereka menyebut Yerussalem sebagai Al-Aqsa, atau tempat beribadah yang jauh.

Sementara itu, umat nasrani meyakini bahwa Yerussalem adalah tanah keramat karena di sana jugalah Yesus disalibkan. Di sisi lain, kaum Yahudi merasa Yerussalem adalah tanah terjanji yang memang diperuntukkan oleh Tuhan kepada mereka. “Masing-masing kelompok religius (islam, nasrani, dan Yahudi) merasa Yerussalem diperuntukkan kepada mereka sehingga timbullah konflik,“ tutur Farras.

Kesimpulan yang diambil Armstrong tergolong tidak biasa, ia meyakini bahwa Perang Salib merupakan salah satu bentuk kolonialisasi barat yang pertama dalam sejarah. Namun demikian, kendati anggapan Armstrong tidaklah populer, beberapa peserta diskusi menganggap bahwa masih terdapat bias-bias dalam pandangan Armstrong seturut yang disampaikan Farras dalam diskusi tersebut.

Kendati simpulan Armstrong tidak poluler, saya rasa kita juga perlu mengutip pandangan Philip K. Hitti sebagai alternatif, supaya tidak menghasilkan prasangka. Betapapun netralnya seorang Armstrong, horizon yang terbentuk dalam pandangan hidupnya disusun oleh nilai-nilai barat itu sendiri,” kritik Hilal dari HMI Kom. FIB UI, seraya menyebut nama Philip K. Hitti, salah seorang pionir ilmu kajian Timur Tengah di Universitas Princeton dan Harvard.

Pernyataan Hilal kemudian menyulut debat yang lebih panjang, utamanya dalam soal netralitas dan budaya poskolonial dalam penulisan sejarah. Pertanyaan dan tanggapan kritis beriringan muncul kemudian, dibarengi dengan candaan yang juga menghangatkan malam yang kian dingin tersebut. Setelah pukul sebelas malam lewat, diskusi dihentikan dengan dibacakannya notulensi.

Beberapa mahasiswa terlihat sudah mengantuk dan memutuskan berpamitan pulang, namun beberapa masih juga berdiskusi dengan membentuk simpul-simpul kecil dengan peserta lain yang masih tersisa. Esok hari sebagian besar peserta yang hadir akan kembali berkuliah, namun mereka masih menyempatkan waktu untuk berdiskusi hingga larut malam.

Momen silaturahmi yang diusahakan oleh Farras dan kawan-kawan dari Bidang PTKP HMI Korkom UI tidaklah sia-sia. Dengan mengikuti diskusi ini, mahasiswa, utamanya kader-kader HMI se-UI, mendapat beberapa manfaat sekaligus. Pertama, mereka bisa menghilangkan stres usai menjalani segala aktivitas kuliah maupun organisasi, dan, yang kedua, tentunya, mereka bisa mendapat pandangan baru sekaligus mengasah kemampuan mereka untuk melihat sebuah fenomena.

Rangkaian diskusi dan nonton bareng ini adalah salah satu bentuk program kerja Bidang Perguruan Tinggi dan Kepemudaan HMI Koordinator Komisariat Universitas Indonesia. Rencananya, rangkaian nonton bareng dan diskusi seperti ini akan terus digiatkan secara reguler guna meningkatkan kapasitas intelektual mahasiswa di lingkungan HMI se-UI.

Teks: Amru Sebayang dengan laporan dari Farras Malik

Foto: Irsyad Mohammad

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *