Nurcholish Madjid, NDP, dan Teladan di Sekitarnya

Cak Nur memberikan pidato. Tulisan Kader HMI Korkom UI
Nurcholish Madjid (Cak Nur) memberikan sebuah pidato. (Sumber: madania.net)

Sabtu kemarin, 17 Maret 2018, adalah hari lahir ke-79 salah seorang pemikir, aktivis, penceramah, peneliti, dan guru bangsa Indonesia, yakni Prof. Dr. Nurcholish Madjid. Cak Nur, begitu ia biasa disebut, sama seperti tokoh pembaharu islam lainnya, dianggap sebagai sosok yang kontroversial. Gejala ini membuat namanya lebih kerap diasosiasikan dengan segala hal yang berbau “liberal”, “sekuler”, maupun “menyimpang” dari ajaran-ajaran Islam yang kebanyakan dipahami oleh sebagian besar umat islam di Indonesia.

Sama halnya dengan Gus Dur dan Amien Rais yang terjun ke dunia politik, Cak Nur sempat beberapa kali mengikuti konvensi partai politik demi meraup suara masyarakat luas sebagai langkah awal menduduki kursi RI 1. Namun berbeda dengan Gus Dur yang memang diakui sebagai organisator ulung, penentu arah partai, dan juga diwarisi trah salah seorang pendiri Republik ini ataupun Amien Rais yang menjadi oposisi keras rezim terdahulu dan lebih dahulu masuk ke dalam pemerintahan, Curriculum Vitae seorang bernama Nurcholish Madjid masih terlalu bersih dari soal-soal politik praktis, hal mana yang menjadikannya dianggap sebagai sosok oportunis ketika mulai masuk ke ranah politik nasional.

Sayangnya, dua hal tersebut, kontroversi pemikiran dan oportunisme politik, kerap kali digunakan untuk mendegradasi sosok Cak Nur sebagai tokoh sampingan yang tidak pantas disandingkan dengan guru bangsa lain. Dan lebih disayangkan lagi, keengganan akan sosok Cak Nur bergulir liar dalam pola hearsay-like thinking yang mengungkung imajinasi anak-anak muda mengenai sosok dan pemikiran Cak Nur. Lewat sosok yang terlanjur dilabel liberal, bandel, dan menyimpang, bukan tidak mungkin publik luas memendam buku-buku seorang Nurcholish Madjid pada lemari yang paling usang.

Dalam persoalan ini, diperlukan abstraksi yang lebih luas untuk memahami pemikiran Cak Nur. Bagi publik luas, terutama untuk kader-kader HMI, entry point yang paling tepat untuk mulai memahami sosok dan pemikiran Cak Nur adalah Nilai Dasar Perjuangan (NDP) HMI yang mulai disusunnya sejak tahun 1969 dan disahkan sebagai arah ideologis organisasi pada  Kongres HMI ke-X di Palembang pada 1971. Proses perumusan NDP berawal dari kunjungan Cak Nur ke Amerika Serikat yang memungkinkannya menyerap gagasan mengenai gerakan mahasiswa berhaluan New Left yang marak pada periode 60 dan 70an. Melalui keresahannya terhadap perkembangan gerakan mahasiswa yang berhaluan ideologis, proyek penulisan Nilai Dasar Perjuangan pun dimulai.

Adapun, beberapa pertimbangan dalam memutuskan urgensi NDP didasarkan pada tiga hal. Pertama, kurangnya buku pegangan ideologis pada kalangan generasi muda islam , khususnya HMI, yang terus terlibat pertikaian ideologis dengan kelompok komunis dan kiri nasionalis. Rezim ketika itu pun masih memungkinkan perdebatan ideologis diselesaikan secara rasional dan argumentatif. Melihat potensi debat yang berujung pada kebekuan argumentasi di kalangan muda islam, penulisan sebuah buku pegangan organisasi menjadi wajib diperlukan. Hal ini menjadi semakin urgen ketika buku pegangan lain seperti Islam dan Sosialisme Tjokroaminoto tidak lagi mampu menjawab tantangan zaman yang telah berubah pesat.

Kedua, keberadaan CGMNI dan organisasi sayap Partai Komunis Indonesia yang memiliki buku pegangan organisasi menimbulkan rasa iri di kalangan muda islam ketika itu. Pustaka Kecil Marxis (PKM) adalah satu literatur wajib yang perlu dibaca dan dipahami oleh kader-kader CGMNI pada waktu itu demi menentukan arah gerak politk secara vertikal maupun horizontal. Di saat bersamaan kalangan muda islam masih berkutat pada soal-soal persatuan islam dan belum mampu mengimplementasikan gagasan keislaman sebagai roda penggerak peradaban dan pembangunan.

Ketiga, Cak Nur merupakan sosok yang sangat mengagumi Willy Eichler, seorang jurnalis, politisi, teoritisi berhaluan kiri dari Jerman. Dalam salah satu risalah berjudul Fundamental Values and Basic Demand of Democratic Sosialism yang ditulis Eichler, Nurcholish muda menemukan metode terstruktur untuk merumuskan kembali ideologi sebuah organisasi maupun partai. Buku yang ditujukan untuk merevitalisasi ideologi Partai Sosialis Jerman (SPD) itu menampilkan cara-cara mengaplikasikan ajaran-ajaran Marx secara dinamis yang dicontohkan melalui dimasukkannya unsur agama dalam sistem ideologi partai tersebut.

Dalam khasanah pemikiran Nurcholish, nomenklatur Marxisme digeser menjadi Islam. Pemikiran ini tentunya menimbulkan konsekuensi tersendiri, salah satunya adalah tercerabutya identitas muslim sejati ketika sistem ini diterapkan. Namun, dalam perhitungan politis Cak Nur, sebagai penerap gagasan Eichler, pola berwatak revisionistik ini berdampak sangat baik bagi sebuah organisasi, terbukti dari keberhasilan SPD menjaring basis massa yang begitu luas setelah menerapkan pola ini.

Kita dapat menemukan corak riset yang luas dalam pemikiran Cak Nur ketika menggarap NDP. Penyaringan terhadap gerakan New Left memicu bahasan mengenai kemanusiaan dan kemerdekaan pada bab IV dan bab V NDP. Corak pemikiran sosialistik pun muncul sebagai bentuk tanggung jawab terhadap sesama dan fungsi sosial umat yang tercantum pada bab VI dan VII. Sementara semangat pencerahan barat dan keselarasan antara ilmu dan agama muncul pada bab VIII.

Periode kemunculan NDP dan pemikiran islam yang mulai menyentuh persoalan substansial adalah masa-masa emas seorang Nurcholish Madjijd . Oleh Masyumi ia bahkan sempat disebut sebagai calon pemimpin masa depan umat, kendatipun ia disesalkan karena dianggap mempromosikan sekularisasi di masa-masa lain kecendekiawanannya.

Meski demikian, generasi muslim sekarang perlu mengambil teladan dari sosok seorang Nurcholish Madjid, utamanya dalam ketidakseganannya menyerap nilai-nilai lain demi memajukan umat. Kita semua menyadari bukanlah hal yang biasa seorang pemikir Islam mengagumi sosok sosialis-demokrat Jerman. Juga bukan satu hal yang umum, ketika seorang pemikir menghayati gerakan New Left sebagai sebuah titik berangkat perumusan arah organisasi.

Nilai-nilai keislaman, keindonesiaan, dan kemodernan yang dibawa oleh Cak Nur melalui NDP tentulah bertolak belakang dari segenap label miring yang melekat padanya. Meski demikian, salah satu hal yang membuat namanya tetap kontroversial hingga sekarang adalah figurnya sendiri yang tidak gemar berapologi ketika menyatakan sebuah gagasan. Sejarah mencatat, ia menghindari banyak perdebatan dengan sosok-sosok Islam lain, yang barang tentu jauh lebih senior darinya. Termasuk di antaranya ketika argumentasi (dan sosok pribadinya) dipreteli habis-habisan oleh seorang H.M. Rasjidi.

Nurcholish juga menyadari upaya untuk mengembangkan sebuah pemikiran tidak bisa berjalan secara statis. Pemikiran perlu dirangsang supaya dapat meluaskan diri pada ruang-ruang baru. Ia mengusulkan sebuah gaya kebebasan berpikir yang, mengutip bahasanya sendiri, disebut sebagai psychological striking force (daya pukul psikologis) yang mampu membuka pintu masuknya ide-ide dan pemahaman baru dalam sebuah alur dialektika. Ketidakmauan untuk berdebat dan pola pikir yang berbeda menampilkan Nurcholish sebagai sosok pemikir Islam yang unik, kendatipun kontroversial.

Sebagai pemikir Islam Nurcholish Madjid menampilkan banyak teladan. Pikirannya pun masih sangat sangat luas untuk diarungi. Gaya berpikir yang cair menjadikannya sosok yang kerap kali dimusuhi. Namun di luar itu semua, tidak ada yang meragukan keyakinannya terhadap segala gagasan yang ia bawa, betapapun pola keindonesiaan, keislaman, maupun kemodernannya masih sulit untuk diterapkan oleh sebagian dari kita hingga hari ini.

Penulis: Amru Sebayang (Kader HMI Kom. FIB UI)

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *