Senior Course HMI Cabang Jakarta Selatan dalam Kenangan

Senior-Course-HMI-Cabang-Jakarta-Selatan-dalam-Kenangan
Prosesi foto bersama penutupan Senior Course HMI Cabang Jakarta Selatan (05/02/2018). (Sumber: Instagram)

Saya adalah salah seorang kader HMI UI yang telah mengikuti Latihan Kader 2 (LK-2), pelatihan tingkat lanjut dalam strata perkaderan HMI. Saya merasa sangat bersyukur karena mampu merampungkan LK-2 di Cabang sendiri, Cabang Depok. Namun bagi saya, LK-2 saja belumlah cukup. Saya ingin ber-HMI dengan lebih kaffah, menyelami segala seluk beluk kaderisasi, serta berusaha memahami segala kerumitannya. Karenanya, saya memutuskan untuk mengikuti Senior Course (Pelatihan Instruktur Training) di Cabang Jakarta Selatan Januari lalu. Banyak orang menganggap Latihan Kader 3 adalah training formal yang paling tinggi statusnya dalam strata training HMI. Namun demikian, anggapan ini tidak sepenuhnya benar ketika kita membicarakan HMI sebagai sebuah organ kader yang menjadikan regenerasi sebagai jantung utamanya. Dalam tulisan ini saya hendak membagikan pengalaman saya selama menjalani Senior Course, tentunya bukan sebagai bentuk kesombongan, melainkan sebagai upaya untuk memberikan gambaran umum mengenai training ini kepada seluruh kader-kader HMI.

Senior Course adalah training yang dikhususkan dalam soal perkaderan. Output dari training ini adalah kader-kader yang mampu berperan sebagai instruktur dalam training-training formal HMI. Calon peserta melalui tahapan screening yang hampir mirip dengan training-training formal lain sebelum memasuki forum resmi. Perbedaan terbesar terletak pada materi screening yang alih-alih makalah, justru berupa proposal sistem pendidikan singkat atau yang lebih populer dengan sebutan sindikat. Sindikat merupakan kurikulum dalam sebuah training formal HMI yang berisikan detail-detail pelaksanaan training, mulai dari kronologi pelaksanaan hingga jenis materi yang harus diikuti pada sebuah training.

Membuat sebuah sindikat benar-benar tidak mudah dan memakan waktu yang sangat lama. Ditambah lagi, hanya sedikit senior yang saya kenal yang telah merampungkan Senior Course sehingga saya sulit mendapatkan saran maupun masukan. Untuk membuat sebuah sindikat yang padu dan tepat, saya perlu begadang selama dua hari di tengah dinginnya angin malam kota Bandung. Berselang beberapa hari setelah saya mengirimkan sindikat ke surel HMI Cabang Jakarta Selatan, saya mendapati kabar dari seorang teman bahwa saya diterima mengikuti screening. Senior Course Cabang Jakarta Selatan diadakan di Sekretariat Cilosari, Sekretariat bersama HMI Jakarta Pusat dan Sekitarnya. Sesampainya di sana saya langusng mencari screener untuk melakukan screening. Pola screening Senior Course berbeda dengan pola screening training formal lainnya. Jika pada training Latihan Kader 2, sebagai contoh, kemampuan Baca Tulis Qur’an harus diselesaikan terlebih dulu untuk memasuki screening materi lain, pada Senior Course peserta boleh mengikuti materi screening secara acak.

Output dari training ini adalah kader-kader yang mampu berperan sebagai instruktur dalam training-training formal HMI”

Total ada 8 materi seputar ke-HMI-an yang diujikan dan saya berani menjamin setiap pertanyaan dalam sub-sub materi tersebut sangatlah sulit. Saking sulitnya pertanyaan yang diajukan, saya perlu melihat kembali e-book modul training Senior Course dari Cabang Ciputat hingga berulang-ulang kali. Usaha saya tidak sia-sia karena saya berhasil menjawab beberapa pertanyaan pada beberapa pos screening. Meski begitu, proses screening saya di pos materi Konstitusi terganjal pada satu pertanyaan, yakni ketika saya diwajibkan menghafal 20 Pasal AD dan ART secara tekstual.

Sementara itu, pada pos screening materi Kepemimpinan dan Manajemen Organisasi saya pun masih harus menerima pertanyaan-pertanyaan sulit, seperti menyebutkan contoh-contoh kepemimpinan Soekarno, Robert Mugabe, dan juga Nicolas Maduro. Beruntung saya berhasil mendapatkan jawaban melalui pencarian di internet dan berhasil mendapat tanda tangan dari pos tersebut. Seingat saya, hingga sore hari itu saya sudah memenuhi dua tanda tangan. Sama seperti training tingkat lanjut lain, pada Senior Course seorang peserta perlu mendapatkan tanda tangan pada jumlah tertentu untuk masuk ke dalam forum pelatihan. Dalam hal ini, saya dituntut untuk mendapatkan tiga tanda tangan. Hingga malam hari saya berusaha untuk mendapatkan satu tanda tangan lagi. Di malam Minggu itu saya berusaha untuk menyelesaikan materi Baca Tulis Qur’an namun karena beberapa hal saya baru mampu menyelesaikan materi tersebut di hari Minggu sore.

Di esok hari saya memutuskan untuk pulang ke Depok, beristirahat dan menunggu hasil screening. Screening adalah tes penentuan layak tidaknya seorang kader mengikuti training formal HMI. Proses screening pada training HMI manapun tidak diselenggarakan secara asal-asalan, ada penilaian dan batas minimum yang perlu dipenuhi masing-masing peserta. Tidak heran jika banyak yang gagal pada proses screening di berbagai training. Di hari itu juga saya mendapati bahwa saya lulus screening dan bisa masuk ke dalam forum Senior Course. Screening Senior Course nyatanya adalah tes yang berat, terbukti dari gugurnya salah seorang peserta yang justru berasal dari Cabang Jakarta Selatan sendiri. Saya merasa sangat beruntung bisa masuk ke dalam forum Senior Course dan mengikuti screening berjalan, screening lanjutan dari tahapan screening sebelumnya, meskipun terbesit juga perasaan takut karena pada forum inilah perjuangan sebenarnya baru dimulai.

Pukul 00.00 dini hari, forum dimulai oleh Master of Training yang bertanggung jawab dan akan ditutup pada waktu Subuh. Sungguh screening berjalan adalah hal yang sukar dan pelik, setiap harinya saya dan kawan-kawan dituntut untuk bangun hingga subuh dan tidak boleh tidur, dikarenakan para screener ingin melihat usaha kita untuk mendapatkan tanda tangan. Waktu tidur setiap harinya hanya sehabis subuh dan pukul sembilan pagi kami diwajibkan untuk memasuki forum kembali dengan tidak diperkenankan telat sama sekali. Dikarenakan keketatan peraturan forum ini, saya pernah beberapa kali melewatkan sarapan hanya demi mengejar waktu tidur dan mandi yang kurang.

“Proses screening pada training HMI manapun tidak diselenggarakan secara asal-asalan, ada penilaian dan batas minimum yang perlu dipenuhi masing-masing peserta.”

Di hari Selasa Subuh, tepatnya hari kelima mengikuti SC dan hari kedua forum, saya bisa berbahagia karena sudah mendapatkan lima tanda tangan screener, sedangkan kawan-kawan yang hadir ketika itu sebagian besar baru mendapatkan tiga tanda tangan. Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Sesaat kemudian saya mendapatkan kabar bahwasanya salah seorang saudara dekat saya meninggal dunia. Kendati tidak terlalu sering bertemu, saya merasakan sedih yang dalam dikarenakan sang saudara juga merupakan kawan yang sebaya dengan saya.

Saya berpikir untuk pulang dan segera menuju Bandung ketika itu. Namun usai menjalani Salat Subuh dan Salat Ghaib dan berdiskusi dengan kawan-kawan peserta, senior, maupun rekan sejawat, saya meneguhkan hati untuk terus berada di forum screening berjalan. Saya kembali melakukan screening dan kali ini pada materi Konstitusi. Di materi itu pula pertanyaan-pertanyaan sukar dan konyol kembali bermunculan. “Kalau semisal seorang kader HMI kencing di jalan raya dengan gordon atau muts, dia melanggar independensi etis atau organisatoris?“ ujar salah seorang screener. Pertanyaan seperti ini tidak pernah ditemukan di buku manapun sehingga sukar untuk dijawab. Untung saja, meski memakan waktu hingga tiga hari, saya bisa melalui materi konstitusi dengan baik.

Di hari terakhir forum, screening berjalan resmi ditutup dan diganti dengan simulasi membawakan sindikat per individu dan simulasi mengelola LK-1 per kelompok. Usai seluruh peserta menyelesaikan simulasi sindikat per individu, muncul masalah baru pada forum. Salah satu peserta meninggalkan forum dengan alasan menjenguk teman yang mengalami kecelakaan. Sialnya adalah, sang peserta tidak memberitahu Master of Training ataupun panitia hingga forum terpaksa berhenti sesaat. Di saat itu juga, Master Mualimin, Ketua Badan Pengelola Latihan (BPL) HMI Cabang Jakarta Selatan sekaligus koordinator kegiatan memerintahkan salah seorang di antara kami untuk menghubungi peserta tersebut. Dari dialog handphone yang di-loudspeak kami mengetahui bahwa sang peserta berbohong soal temannya yang mengalami kecelakaan. Saking kesalnya seisi forum mendengar pernyataan tersebut, Master Mualimin sontak merobek kartu peserta yang bersangkutan sembari bergumam. Saya masih ingat salah satu kalimat Master Mualimin mengenai peristiwa itu: “Kalau bodoh sih buku atau perpustakaan banyak, tinggal baca buku. Kalau sudah pembohong susah itu diperbaiki.” Karena hal ini kami terpaksa mengatur kembali kelompok untuk simulasi LK-1 dan, sialnya, saya dan kawan-kawan justru mendapatkan urutan pertama.

“Dari dialog handphone yang di-loudspeak kami mengetahui bahwa sang peserta berbohong soal temannya yang mengalami kecelakaan.”

Di sinilah salah satu tantangan terberat forum Senior Course dimulai. Pada simulasi LK-1 banyak panitia yang berperan sebagai peserta liar. Mereka tidak segan-segan melakukan hal-hal yang bisa menghambat jalannya training. Pada sesi simulasi yang saya lakukan bahkan ada salah seorang yang hendak melempar bangku di tengah-tengah forum hingga suasana menjadi benar-benar menegangkan. Untungnya, melalui kerja sama yang solid dan ilmu manajemen peserta yang telah kami dapatkan, momen menegangkan tersebut dapat diatasi. Dengan perasaan lelah, kami berhasil menjalankan simulasi dengan baik. Pada simulasi kelompok berikutnya, peran peserta yang telah menjalankan simulasi diubah menjadi panitia LK-1 yang bertugas untuk mengusir perusuh-perusuh yang tadi disebutkan.

Forum simulasi dinyatakan berakhir pada pukul enam pagi dan seluruh peserta dipersilakan untuk beristirahat sembari menunggu hasil pengumuman. Di hari itu juga saya untuk pertama kalinya merasakan tidur lebih dari empat jam! kontras dengan hari-hari sebelumnya yang hanya satu atau dua jam. Di pertengahan hari kami bangun, mandi, dan sarapan. Sebelum menunggu pengumuman kelulusan, rupanya ada seminar tentang pendidikan politik dan kami mendengarkannya dengan khidmat. Pukul dua siang tepat forum pengumuman kelulusan dimulai. Seluruh peserta yang hadir dinyatakan lulus dan dipanggil satu per satu untuk disematkan gordon dan muts. Sebenarnya, sebagian dari kami merasa sedih, dikarenakan salah seorang dari kami yang dirobek kartu pesertanya tidak bisa ikut serta pada saat penyematan gordon dan muts. Betapapun ia berbohong, ia tetap berjuang bersama kami di awal pelatihan ini.

Meski demikian saya menyadari, akhirnya di hari itu juga, seluruh pengorbanan saya terbayar tuntas! Tidak pernah terbayangkan bagi saya melangkah sejauh ini dengan HMI. Saya yang awalnya ber-HMI karena rasa penasaran kini menjadi salah satu pengader yang bertatap muka langsung dengan calon-calon pemimpin masa depan HMI. Tentunya, perayaan ini tidak berlangsung lama karena saya sadar tanggung jawab besar telah menanti di hari-hari esok.

Lalu intinya, untuk apa segala catatan dan uraian pengalaman pribadi ini? Maafkanlah saya terlalu bertele-tele menyampaikan pengalaman pribadi ini. Inti dari tulisan ini adalah untuk memberikan gambaran jelas kepada kader-kader muda untuk selalu berpihak pada perkaderan, utamanya melalui program Senior Course atau training formal lainnya. HMI memang organisasi yang besar dan telah melahirkan banyak pemimpin bangsa. Kendati demikian, perlu disadari berproses di HMI sama dengan mengaktifkan seluruh instrumen organisasi di dalamnya. HMI di beberapa kampus sedang menanjak menuju organisasi yang lebih ajeg, meskipun tentu dengan kekurangan di sana-sini. Bukan hanya di UI, tetapi juga di kampus maupun universitas manapun, proses perbaikan dalam tubuh HMI harus dilangsungkan dari dalam sekat organisasi itu sendiri, salah satu caranya adalah dengan mengikutsertakan kader-kader dalam pelatihan-pelatihan formal yang menjadi urat nadi kaderisasi dan regenerasi.

“Kendati demikian, perlu disadari berproses di HMI sama dengan mengaktifkan seluruh instrumen organisasi di dalamnya.”

Dan percayalah, dalam keterlibatan terhadap instrumen kaderisasi itulah sisi persaudaraan kita sebagai seorang kader maupun pengader timbul ke permukaan. Saya, seperti yang diuraikan sebelumnya, mengalami berbagai kendala menjalani Senior Course. Saudara dekat saya meninggal di hari saya melakukan screening yang pada akhirnya menggetarkan niat saya untuk menyelesaikan training, namun berkat dukungan dari kawan-kawan HMI UI dan Kota Depok saya bisa melanjutkan Senior Course hingga lulus. Saya juga sempat berputus asa dalam salah satu materi mengenai Konstitusi, namun kopi dan obrolan dengan sesama peserta membuat saya merasakan tenang ketika menghadapi materi tersebut. Tidak terbayangkan sama sekali saya bisa melalui simulasi perkaderan yang begitu menegangkan, jika bukan karena rekan-rekan peserta lain yang mau bekerja sama dengan baik.

Kita perlu meruntuhkan citra organ pragmatik yang terlanjur melekat pada seragam HMI. Satu upaya yang patut dilakukan adalah membenahi perkaderan dan menyadarkan kader-kader muda akan pentingnya kaderisasi. Memang, siapapun akan mengakui, training tingkat lanjut sangatlah berat! Senada dengan yang saya sebutkan, screening bahkan membahas soalan yang tidak ditemukan dalam buku teori, sejarah, maupun biografi apapun. Tetapi kadar kesulitan tersebut tentunya akan teratasi dengan solidaritas, dukungan, dan semangat dari kader, pengader, dan senior yang mengiringi perjuangan kita. Tidak ada yang perlu ditakutkan selama kita bersama peduli pada perkaderan. Karenanya, dari awal hingga sekarang saya masih percaya, di dalam HMI kita berteman lebih dari saudara! Saya menanti kawan-kawan untuk ikut serta dalam berbagai training tingkat lanjut HMI di seluruh Indonesia. Hingga hari ini saya bersedia menjadi pendamping bagi mereka yang siap menjalani latihan tingkat lanjut HMI. Saya percaya citra pragmatik akan runtuh beriringan dengan semangat kita memerjuangkan kaderisasi. Karena di dalam kaderisasi kita berjuang membentuk manusia yang lebih baik demi menegakkan masyarakat yang adil dan makmur, senada dengan tujuan awal kita bergabung dengan HMI.

Tulisan ini disarikan  dari diskusi ringkas bersama Irsyad Mohammad (Sekretaris Umum HMI Korkom UI) yang telah mengikuti training Senior Course. Dimuat di sini demi tujuan kaderisasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *